Cerpen percintaan
Papper and Friendship
“Bung, kamu lihat kertas putih di mejaku nggak?” Tanya Dinda, sahabatku saat pulang sekolah, aku hanya menggeleng tanda tidak tau
“duh, dimana sih tu kertas?” Dinda masih mencari-cari kertas yang dimaksud
“kertas apaan sih din? Cuma kertas aja segitunya?” tanyaku heran, melihat dinda mencari kertas itu sampai kolong meja
“duh, bung itu bukan sembarang kertas, pokoknya isinya penting banget!” Dinda sangat takut dan khawatir
“emang isinya apaan?” tanyaku lagi
“e.. isinya.. penting deh pokoknya” Dinda seperti menyembunyikan sesuatu, ia tidak mau menyebutkan apa isi surat itu
“oh, aku tau.. isinya Surat cinta kan?” tebakku iseng
“bukan, sok tau banget sih” gerutu dinda kesal
“bung, daripada bengong mending bantu aku nyari tu kertas deh” lanjut dinda malah menyuruhku membantunya
“eh, enak aja, aku disini kan nungguin kamu, tuh liat semua orang udah pada pulang, cuma tinggal kita doank lo” gerutuku kesal
“makanya, biar cepet pulang bantuin aku nyari kertasnya donk!” bentak Dinda
“nyuruh kok mbentak” kataku dengan suara agak kecil, tapi berharap dinda bisa mendengarnya.
“iya, maaf deh” kata dinda, wah ternyata kedengaran juga yah, emang pendengaran dinda tajam banget kayak kucing aja. Hihihi..
Aku pun membantu mencari kertas yang dimaksud oleh Dinda
“ini bukan din kertasnya” aku pun mengacungkan secarik kertas yang berada di bawah meja, Dinda pun langsung menengok, padahal dari tadi dia sibuk banget nyari tuh kertas
“Bukan” kata dinda padahal isinya belum ia baca
“isinya belum dibaca aja udah jawab bukan” gerutuku kesal
“Emang isinya apa sih?” tanyaku lagi ingin tau
“kamu nggak perlu tau isinya, yang penting sekarang bantuin aku” ujar dinda kali ini ia mencoba mencari di dalam lemari yang berisi piala-piala
“mana bisa aku nemuinnya kalo isinya aja nggak tau!” kataku sambil melihat di setiap kolong meja
“kamu ngomel mulu sih bung” dinda malah menyalahkanku
“loh, kok aku disalahin, kamu tuh yang ngomel mulu, lagian apa pentingnya sih secarik kertas gitu?” kataku tidak terima
“ah, kamu Cuma bikin aku pusing, mendingan kamu pulang deh!” kata dinda setengah membentak
“udah dibantuin nyariin, malah marah-marah nggak jelas, nggak bilang makasih lagi” aku pun kesal, dan pergi meninggalkan Dinda di kelas sendiri, sebenarnya aku tidak tega meninggalkannya sendirian begitu, tapi aku merasa tidak senang sudah disalahkan.
Hari ini aku pulang tanpa sahabatku, dinda. Aku pun mengayuh sepeda sendiri dengan amarah yang masih membendung di hatiku, apalagi cuacanya sangat panas, dan membakar kepalaku yang sedang pusing ini.
Keesokan harinya, tidak seperti biasanya aku langsung menuju sekolah, padahal biasanya aku pergi menghampiri rumah Dinda untuk berangkat ke sekolah bersama.
Di kelas aku masih melihat kursi Dinda kosong, tapi tidak aku pedulikan, hari ini aku memutuskan untuk pindah tempat duduk
“Ayu, aku duduk bersamamu ya” kataku saat melihat kursi di sebelah ayu masih kosong, Ayu hanya mengangguk lalu tersenyum
“tumben nggak duduk sama Dinda, lagi musuhan yaa” kata Ayu menebak
Aku hanya bisa mengangguk, tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu, ia adalah Dinda, orang yang sedang kubenci. Ia lalu menatapku lalu sedikit tersenyum, aku hanya memalingkan muka lalu melanjutkan mengobrol dengan Ayu.
“emang ada apa sih kok kamu bisa musuhan sama dinda, minta maaf donk musuhan itu nggak baik lho” kata ayu menasehati
Aku pun menjelaskan semuanya, Ayu hanya manggut-manggut.
‘Kriiiing….’ bel Istirahat berbunyi, aku pun pergi ke kantin bersama Ayu, tetapi tiba-tiba Dinda melanggarku, ia lalu tersenyum kepadaku lalu memberikan sesuatu di balik tangannya
“Selamat ulang tahun Bunga” tiba-tiba Dinda mengucapkan ulang tahun kepadaku dan memberikan sesuatu kepadaku padahal aku lupa kalau hari itu adalah ulang tahunku. Kuambil kado dari tangan Dinda, kado berwarna pink berbentuk hati itu lalu kubuka perlahan, alangkah terkejutnya aku setelah melihat isinya yang ternyata adalah jam tangan berwarna pink bergambar orang dengan tulisan Dinda & Bunga di dalam jam itu. Dan di bawahnya terdapat secarik kertas yang sudah lecek, kuambil kertas itu dan kubaca perlahan yang isinya:
Untuk: Bunga (sahabatku)
Dari: Adinda (sahabatmu)
Selamat Ulang tahun Bunga sahabatku! Tambah cantik, pinter, dan nurut sama ortu ya! Oh iya aku ngasih kado jam tangan khusus buat kamu. Semoga kamu suka ya..
Dan dibalik kertas itu terdapat tulisan
‘maaf ya bung, kemarin sudah menyalahkanmu, sebenarnya kertas itu ada di dalam tasku dan kertas yang kumaksud kemarin adalah kertas yang kamu baca ini..’
Setitik air mata keluar dari ujung mataku, kutatap Dinda lekat-lekat, aku pun memeluknya dengan rasa bersalah, aku tak kuasa menahan tangisan ini, Dinda pun melihatku lalu tersenyum, kami pun tersenyum bersama, persahabatan ini tidak akan hancur Cuma karena secarik kertas, dan persahabatan ini utuh kembali karena secarik kertas.
Komentar
Posting Komentar